Hidup bagaikan pelangi. indah memancarkan warna warni

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 21 Januari 2012

Cinta ku Bersemi di Dekanat FKIP


Matahari begitu menantang hari ini, menunjukkan kebringasannya seolah ia ingin menunjukkan bahwa aku lah si raja siang. Siang di Bengkulu sungguh tak bersahabat. Beda dengan kota asal ku, sungguh sejuk dan menentram kan membuat pikiran selalu damai dan tenteram. Cerita ku bermula di sini, di kota Bengkulu. Perjalanan ku sebagai mahasiswi baru di mulai. Nama ku Palenopsita amabilisa, yang artinya anggrek bulan. Mugkin orang tua ku berharap agar aku dapat secantik anggrek yang terkesan anggun dan eksklusif, tidak hanya paras tapi juga hati. Orang lebih suka menyapa ku dengan Ale. Aku seorang perempuan biasa dengan jilbab kecil ku. Orang-orang lebih suka menyebut ku sebagai akhwat. Namun aku hanyalah seorang akhwat biasa dengan segala kekurangan dan kelemahan ku. Aku tak ingin di pandang sempurna dengan jilbab ku tapi aku ingin berusaha mencapai kesempurnaan itu. Tak ada satu pun manusia yang sempurna ku rasa. Akhwat juga seorang manusia biasa.
Awal menjalani profesi baru sebagai mahasiswi sungguh di luar dugaan. Awalnya aku ragu untuk masuk kuliah namun karena ada kesempatan akhirnya aku memutuskan untuk mencobanya. Aku tak begitu tertarik menjalani rutinitas ku. Aku bosan dengan kuliah dan kuliah. Tugas dan tugas. Aku butuh sesuatu yang mampu merefresh otak ku. Program studi yang ku ambil tak sesuai dengan keingnanku namun Tuhan berkehendak lain. DIA menuntun ku kesini, aku mencoba mengambil hikmah di balik semuanya. Mugkin ada rencana besar yang Tuhan persiapkan untukku. Tuhan tak memberi apa yang kita inginkan namun IA memberi apa yang kita butuhkan.

                                                ***

Awalnya aku mencoba untuk menjalani rutinitas sebagai mahasiswa sungguhan yang hanya berkecimpung di akademik dan tak peduli dengan dunia lain. Namun lama kelamaan aku jenuh dengan semuanya. Aku haus dengan dakwah yang pernah aku jalani. Rutinitas SMA yang menjadikan ku sebagai ADS atau Aktivis Dakwah Sekolah seolah terus meneriaki dan mengejarku agar aku kembali menjalankannya. Ada kerinduan tersendiri untuk memulainya. Ada bagian hati ku yang kosong yang ingin segera diisi. Ada secuil rindu terselip di dalam jiwa.
Tahun pertama kuliah hasilnya memuaskan. Saat itu aku mulai aktif menjalankan studi dan dakwah ku. Aku masuk ke dalam UKM kerohanian yang merupakan salah satu jalan untuk membuka peluang ku untuk berdakwah kembali. Aku menekuni rutinitas baru sebagai seoarang mahasiswi dan seorang aktivis dakwah. Aku merasa nyaman dan tenteram di dalamnya. Ada kepuasan tersendiri yang ku dapat di dalam nya. Setelah lebih kurang satu  semester ada peluang baru untuk memasuki dunia organisasi yang lebih besar dari UKM yang selama ini ku jalani. Petualangan ku menjadi mahasiswi yang sebenarnya berawal di sini ketika aku memutuskan untuk memasuki dunia baru sebagai seorang organisator.
             Kesibukan baru ku sebagai organisator menuntut agar aku belajar lebih ekstra dan harus mengatur waktu dengan baik. Aku harus mampu menyeimbangkan antara dunia kuliah dan  dunia organisasi. Kadang ada kelelahan dan keletihan menyeruak, tubuh ku kadang tak mampu lagi, setiap hari ada rapat ini, rapat itu, ada kegiatan ini, kegiatan itu namun di saat-saat seperti itu lah ada kenikmatan tersendiri yang ku rasakan. Ada kepuasan batin di dalamnya. Disaat itu lah aku benar-benar merasa menjadi seorang mahasiswi yang  benar-benar hidup. Ada aliran nafas yang mengalir di setiap nadi ku.
            Berawal dari kegiatan seminar nasional kisah ku bermula. Tepatnya kisah cinta pertama ku sebagai seorang mahasiswa. Sebenarnya aku malu tuk mengakuinya Aku yang dalam kegiatan tersebut di daulat sebagai koordinator kestari mau tak mau harus selalu menjalin komunikasi yang baik dengan koordinator acara agar kegiatan yang dilakukan berjalan dengan lancar tanpa hambatan dan mampu memberikan kepuasan kepada peserta. Muhammad Ikhsan Fadliatulsolihin itulah koordinator acara waktu itu. Mau tak mau aku harus selalu berhubungan dengannya. Awalnya aku tak tahu siapa dia. Bahkan seperti apa orangnya pun tak tahu. Kami hanya menjalin komunikasi via sms. Ia selalu membalas seperlunya tanpa embel-embel sedikit pun. Awalnya aku menganggap dia setingkat dengan ku. Jadi aku memanggilanya Ikhsan saja. Pertemuan pertama ku dengan nya terjadi di dekanat FKIP. Gayanya cool, dingin, jarang tersenyum, diam dan angkuh. Itu kesan pertama ketika aku melihatnya. Dari informasi yang ku dapat ternyata dia kakak tingkat tak seleting dengan ku. Aku jadi merasa bersalah memanggilnya hanya Ikhsan waktu itu. Tapi aku bingung dengan hatiku, ia berdebar begitu kencang ketika aku melihatnya. Sifat dingin, diam dan angkuh itulah yang justru menanatang ku untuk semakin mengenal sosok seorang Ikhsan.
            Sejak hari itu nama Muhammad Ikhsan Fadliatulsolihin selalu mengusik hari-hari ku, aku tak mampu tuk melupakan pertemuan pertama itu. Sayang aku tak bisa memandangnya lebih lama waktu itu. Ups... ketahuan deh. Jarang aku menemukan sosok seperti itu. Bermula dari pertemuan itu juga komunikasi ku via sms dan telepon semakin intens. Tak tahu mengapa saat hp ku berbunyi aku berharap hanya nama Ikhsan yang tertera dilayar ponsel ku. Hanya itu yang ku harapkan dari waktu ke waktu. Semakin hari perasaan ku semakin tak menentu. Aku lebih suka menyendiri dan tersenyum –senyum sambil menerawang jauh mengingat perbincangan kami lewat telepon semalam atau hanya tersenyum memandangi setiap deret huruf yang ia tuliskan via smz untuk ku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun dengan sendirinya aku tahu ada secuil riak tawa cinta mengisi sudut hatiku. Cinta ku telah terpaut oleh sosok bernama Muhammad Ikhsan Fadliatulsolihin. Ternyata cintaku bersambut, tak hanya aku yang merasa bahwa Ikhsan begitu istimewa menempati sudut terdalam hati ku, sebaliknya Ikhsan pun begitu. Dari hari kehari perasaan cinta yang mulai tumbuh semakin bersemi dan terus merekah bak bunga mawar merah di depan kamar ku yang menjadi saksi saat aku tengah tersipu berteleponan ria dengan nya. Namun sayang posisi kami sebagai aktivis dakwah kampus saat itu tak memungkinkan untuk mengklarifikasi di depan publik. Kami menjalani semuanya dibalik layar . tak ada seorang pun yang tahu ada secuil cinta terselip diantara aku dan Ikhsan yang notabene nya adalah seorang aktivis dakwah kampus.
Sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan jatuh juga, begitu juga serapat apa pun kita menyimpan dan menyembunyikan sesuatu pasti ada saatnya akan ketahuan juga. Mungkin pribahasa itu pas untuk ku. Saat itu waktu malam kamis, kami sepakat untuk pergi bersama menikmati indahnya malam di kota Bengkulu ini. Itu menjadi malam terindah dalam hidupku selama 20 tahun ini. namun sungguh sayang, mugkin semua sudah tertulis dalam takdirnya. Malam itu juga aku bertemu dengan salah seorang rekan mahasiswa yang sama-sama menjabat sebagai aktivis dakwah di kampus. Aku hanya bisa terdiam dan tak mampu berkata apa-apa. Malam itu aku lagsung diajaknya pulang tanpa mempedulikan Ikhsan. Esoknya aku dipanggil ke bagian dewan syuro kerohanian untuk dimintai pertanggungjawaban dan penjelasan semuanya. Aku di ceramahi dan dinasehati. aku tak menggubris satu kata pun. Aku hanya terdiam. Aku tak peduli semuanya. Yang aku pikirkan hanya Ikhsan. Bagaimana keadaan Ikhsan. Aku hanya ingin bersamanya saat itu. Rasanya aku ingin berteriak dan memaki bahwa kami hanya manusia biasa yang juga membutuhklan cinta. Kami hanya sepasang anak adam yang mencoba merajut cinta dan memimpikan penyempurnaan agama yang sempurna melalui suatu ikatan yang suci pernikahan. Ini hanya proses penjajakan untuk mendapatkan yang terbaik. Ini hanya sebuah proses menuju kesempurnaan agama yang telah disunnahkan oleh beliau nabi Muhammad saw. Kami hanya penikmat sepotong episode kehidupan. Kami hanya insan biasa yang ingin merasakan asam manis pahitnya cinta yang dianugrahkan oleh sang Maha Cinta. Namun pembelaan apa pun tetap tak membenarkan posisi kami untuk menjalin cinta terlarang dianatar aktivis dakwah.

12 Februari 2009,
Hari yang sulit bagi ku. Hari yang tak pernah aku inginkan. Hari yang bahkan tak pernah sedikit pun terlintas dalam benakk ku. Aku harus menentukan pilihan. Aku harus memutuskan hubungan ku dengan Ikhsan atau langsung menentukan pilihan untuk menikah dengan Ikhsan. Posisiku sebagai seorang mahasiswi semester empat tidak memungkinkan untuk menerima pernikahan. Disamping aku masih kuliah, aku juga masih terbilang muda. Aku memang menginginkan pernikahan di usia muda tapi bukan begini caranya. Aku ingin dengan cara ku sendiri. Mencari seseorang yang benar-benar bisa menjadi imam bagi ku dan menjadi pembimbing dan pemimpin ku baik di kehidupan dunia maupun kehidupan abadi di akhirat. Aku ingin yang terbaik. Aku ingin semuanya dengan keikhlasan bukan paksaan. Aku ingin menjalaninya sebagai ibadah untuk mengikuti sunnah beliau bukan karena suatu tekanan. Aku ingin semua sesuai dengan apa yang aku impikan. Aku dan Ikhsan diberi waktu selama tiga hari untuk memberikan keputusan yang baik bagi semuanya.
Selama tiga hari aku merenung, berdoa dan sholat istikharah memohon petunjuk kepada Sang Penguasa Alam, Pemberi Anugrah Cinta. Dari dua malam aku shalat istikharah, nama Ikhsan tak kunjung datang pada ku atau semacam sinyal-sinyal Ikhsan tak juga muncul dihatiku. Apa yang kuharapkan tak terjadi. Ada sebersit keraguan menyeruak hatiku. Ada ketidakpercayaan dengan apa yang ku jalani.
Di malam terakhir isthikarah ku, ponsel ku berbunyi titit... titit...titit  nama Ikhsan muncul dilayar ponsel ku. Aku ragu untuk menjawabnya. Aku hanya memandangi ponselku, tak ada daya untuk sekedar mengangkat dan say halo. Setelah dering yang ketiga baru kuangkat telepon dari Ikhsan
Assalamualaikum,,
Waalaikumsalam,,
Pa kabar Le? Sudah dua hari tak bertemu. Rasanya ada yang hilang dalam hidup ku. Tak ada smz dari mu.
.. . . . . . .
Le.. masih dengar suara ku?
Le.. Please?
Hmmmm... ya aku masih dengar.
Aku tak mampu lagi San tuk jalani semuanya.
Pa maksudnya Le?
Lebih baik kita mengakhiri semuanya,kita sudah melanggar semuanya. Kita tahu itu, bahkan kita paham.
Beri aku kejelasan Le?
Sudah dua malam ini aku merenung, berdoa dan sholat istikarah seperti yang telah dianjurkan, namun namamu tak kunjung datang pada ku San. Bahkan sinyal-sinyal keberadaan mu semakin melemah dan bahkan mungkin akan menghilang. Memang berat tapi kita harus mengakhiri semuanya.
Apa kamu sanggup Le mengakhiri semua ini?
Sanggup atau tidak sanggup semuanya harus diakhiri. Karena kita yang salah. kita yang telah keluar dari jalur-jalur yang kita teriakkan. Mungkin ini jalan terbaik yang diberikan oleh Sang Maha Cinta.
Ok, kalau itu mau mu. Aku hanya seorang Ikhsan yang tak punya kuasa untuk menahan mu untuk tetap bersamaku menerjang badai dan ocehan-ocehan mereka. Tapi boleh kah aku berharap Le?
Apa?
Aku akan menjaga perasaan ini, aku akan setia menunggumu. Aku akan tetap mendambakan mu sebagai seorang bidadari yang memang ditakdirkan untuk ku. Seorang bidadari yang akan menggemgam tanganku. Seorang bidadari yang...
Cukup San! Tak usah melemahkan iman dan menggoyah kan keputusan ku.
Ok. Tapi aku tidak mengikat mu.. it just my dream. I hope it will become true.
Wassalam
Tuut..tuut…tuut.. teleponnya terputus.

15 Februari 2009,
Aku menemui dewan syuro dan menyampaikan hasil istikharah ku. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengan Ikhsan dan kembali ke jalur dakwah. Menjalani rutinitas ku sebagai organisator dan seorang aktivis. Aku juga memutuskan keluar dari organisasi yang telah mempertemukan aku dengan Ikhsan. Mungkin dengan cara seperti itu aku bisa cepat melupakannya. Semua rekan-rekan ku bertakbir Allahuakbar. Mereka memeluk ku erat, menjaga ku ketat dan berharap aku mendapatkan yang terbaik dari semuanya. Aku tak tahu dengan nasib Ikhsan ku. Mau tak mau ia pun harus berucap sama dengan ku. Hari-hari berikutnya aku tenggelam dengan aktivitas ku sebagai mahasiswi sekaligus aktivis dan organisator. Nama Muhammad Ikhsan Fadliatulsolihin semakin redup dalam hatiku dan semakin menghilang. Aku sibuk dengan aktivitas baru ku, nama Ikhsan semakin tenggelam dalam kesibukannku, namun sudut terdalam hatiku berharap agar suatu saat nama Ikhsan muncul menyeruak kembali kedalam relung hati ku dan benar-benar mampu menyempurnakanku sebagai seorang wanita. Semoga.
***
21 April 2011,
Hari ini menjadi hari bersejarah dan hari bahagia untukku. Hari ini aku resmi menjadi seorang wisudawati dengan gelar kumlaude dan IPK yang alhamdulillah memuaskan 3,75.  Rasanya aku menjadi wanita paling bahagia saat itu. Aku melihat senyum bangga diwajah mama. Aku melihat keceriaan di wajah adik-adikku. Namun ada secuil bagian hati ku yang tak ikut merasakan bahagia. Secuil itu telah pergi dan tak tahu apakah ia akan kembali mengisi secuil bagian ini. Secuil hati itu telah jaug terbang keangkasa bersama cinta yang penah terlukis disana. Apakah sang angin masih sudi untuk singgah lagi kedalam hati ku. Aku tak tahu.
Tuut..tuut...tuut...
Assalamualikum
Waalaikumsalam
Selamat ya Palenopsita amabilisa, selamat ya Le atas kelulusannya semoga barokah dan semoga selalu dalam lindungan Allah.
Aamiin
Aku kan memepati janji ku Le.. tunggu aku.. aku akan datang.
Wassalam
Tuut. . . .tuut.. tuut..
Teleponnya terputus

Aku terdiam sesaat, tubuhku lemas, Sendi-sendi ku tak bergerak. Jantungku berhenti berdetak. Semuanya seakan terdiam seketika. Hanya aku dan detakan jantung ku yang terdengar. Dunia terdiam tertegun menyaksikan ku. Ya Robb inikah takdir indah yang Kau berikan untuk ku. Ini kah kisah indah yang ingin Kau tunjukkan untuk ku? Inikah kado terindah untuk kelulusan ku. Muhammad Ikhsan Fadliatulsolihin, kau mengambil kembali secuil hati ku.
Mama  hanya tersenyum melihat ku. Ia mengatakan malam sebelmnya keluarga Muhammad Ikhsan Fadliatulsolihin telah datang melamar ku. Mama sengaja merahasiakannya untuk suprise katanya. Allahuakbar, Maha Cinta Kau Ya Rabb yang telah menyatukan hati kami.














By : Kazamieee
Udara pagi kota Bengkulu yang menusuk uLu hati ku

0 komentar:

Posting Komentar